Track Penanjakan - Sukapura (Warung Fatimah)
21 Desember 2024
23 Juli 2019
GOBAR BMC 21/07/19 : PUNCAK PENANJAKAN - PANTAI BAHAK PROBOLINGGO
Gowes Bareng kali ini sangat istimewa
disamping karena adanya erupsi Gunung Bromo dengan amplitudo maksimum 37 mm
durasi sekitar 7 menit pada Jumat
(19/7/2019) petang 16.37 WIB atau dua hari menjelang pelaksanaan Gobar yang
bikin kekuatiran ditutupnya akses menuju Gunung Penanjakan, juga karena
panjangnya track mulai dari puncak Gunung Penanjakan Bromo dengan ketinggian 2700
mdpl menuju titik finish Pantai Bahak dengan elevasi 0 mdpl sepanjang
43 Km yang ditempuh kurang lebih dalam 7 jam, dan jangan tercengang karena 7 jam ini bukanlah gowes terus menerus melainkan banyak diisi gelak tawa canda ria, foto selphi, ider tempe, saling menunggu, istirahat dan lainnya karena rombongan kami berjumlah 23 Orang.
Gobar rute panjang dari titik ketinggian menuju
titik terendah bukan kali pertama ini dilaksanakan, sebelumnya pernah dilakukan
dua kali di Pulau Dewata dari Bukit Penulisan tempat salah satu Pura tertua di
Pulau Bali menuju Pantai Utara P Bali yaitu Pantai Tianyar (Gobar minggat serie #3 Bali Secret Track, 21/02/15) dan yang kedua dari Lokasi
Proyek Panas Bumi Bedugul menuju Tanah Lot, Pantai Selatan (Gobar Minggat seri #5, 31/03/18 ).
Berdasar data Google Maps Timeline,
Start di Penanjakan pada 10:13 lalu sampai di Warung Fatimah Sukapura
untuk Maksi dan Sholat (Ishoma) pada 13:45 dan lanjut perjalanan dari
Warung Fatimah ke Pantai Bahak pada 14:48 dan sampai di titik Finish Pantai
Bahak pada 16:56.
Pada etape pertama, track dari Penanjakan menuju
warung Fatimah sudah berkali kali kita lintasi, track ini dikalangan AM’er
dikenal dengan Track 5 Cm kondisinya saat ini berdebu karena musim kemarau tapi
ada beberapa bagian yang tetap padat terutama lintasan yang ada dibawah pepohonan
rindang dan terlindung dari paparan sinar Mentari, disamping berdebu jalur
lintasannya membentuk Reel Cekungan yang dalamnya antara 10 -25 Cm sehingga
perlu ekstra hati hati dengan menjaga jarak aman antar Rider karena debu
vulkanik yang beterbangan akibat dilintasi roda roda sepeda bagian depan bisa
menutupi pandangan sehingga roda depan bisa melanggar dinding cekungan
akibatnya bisa slip dan tergelincir, untuk segmen jalur Makadam kali ini lebih
save dan nyaman karena dibeberapa belokan tajam sudah banyak yang dibeton
sehingga lebih confidence dalam memacu kuda gowes.
Untuk etape kedua dari Warung Fatimah menuju
Pantai Bahak sudah tidak ada lagi debu debu jalanan yang mengganggu, setelah
melalui turunan aspal jalan provinsi lalu melintasi kebun kebun dan pekarangan
masyarakat Sukapura dan Lumbang sampailah di area Hutan Jati dengan kontur
track relatif flat dengan banyak dedaunan Jati yang jatuh berserahkan menutupi
lintasan sehingga kalau tidak fokus dan waspada terutama disetiap jalur
bercabang bisa bisa tersesat dan berputar putar di dalam Hutan Jati, konon
jalur dalam Hutan jati ini juga merupakan bekas jalur perlintasan Pencuri Sapi.
Setelah keluar dari Hutan Jati menuju ke utara
melintasi ladang ladang warga, melewati Underpass Tol Surabaya – Probolinggo
dan memasuki wilayah Tongas, berkelak kelok melintasi perkampungan, terkadang
masuk halaman, bagian samping dan belakang rumah warga tapi mereka begitu ramah
melihat kami melintas tanpa merasa terganggu hingga menyebrang Jalan Nasional Pantura Probolinggo (Daendels), mungkin sang Guide Samsjul Huda sudah melakukan
pendekatan khusus kepada warga sehingga tidak ada satupun tatapan mata warga
yang tidak bersahabat ketika kami lewat.
Dan sampailah di Titik Finish Pantai Bahak dengan
elevasi 0 (nol) mdpl yang kondisinya saat senja itu airnya surut
sehingga terlihat dasar pantai agak ketengah sedikit berlumpur namun batas
pantai dengan daratan sudah berpasir halus kecoklatan, pantai yang masih alami
belum banyak adanya sentuhan pembangunan sebagai salah satu alternatif
Destinasi Wisata Probolinggo.
20 Oktober 2016
GOBAR LONG TRACK BMC : PENANJAKAN – TONGAS VIA COKRONITI
Pesona keindahan alam Bromo
memang tiada bosannya untuk dinikmati, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan kilo
(baik kilo meter maupun kilo gram) track di TNBTS yang telah kami jelajah namun
masih juga dan juga ingin kembali dan kembali, daya magnet Bromo bagi para
MTB’er bak gaya tarik Kabah bagi kaum Muslim, makanya tak berlebihan dan tidak salah
bila dibilang TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) adalah semacam Tanah
Suci atau Syurga bagi MTB’er, bagi siapa yang mengaku MTB’er tapi belum pernah
ke TNBTS maka ke-MTB’er-annya belumlah sempurna ibarat makan kita hanya
mendapat 4 sehat saja (kalaupun lengkap
keempatnya) tapi belum sampai 5 sempurna.
Semenjak dirintisnya Track 5 Cm kurang lebih 2-3 tahun silam oleh
pegiat MTB penyuka Perosotan (Gravity Enduro/AM) yang dimotori oleh Temen baik
dari Probolinggo maupun Surabaya, kami BMC
and The Gank sangat berharap bisa
mengexplore track baru tersebut secara full team dari berbagai DPC, tetapi ada saja aral yang menjadi
tertundanya harapan itu, beberapa temen masih suka Tanjakan dan jenis Kuda
Gowes genre XC sehingga bila diajak slalu beralasan type Kuda Gowes dan Track
yang tidak cocok.
Seiring dengan bertambahnya usia
dan kedewasaan --suka Perosotan salah
satu tanda kedewasaan MTB er... wkwkwkwk-- akhirnya banyak temen BMC yang beralih Passion
dan Muallafatun
ke Prosotan dan terlebih lagi setelah beberapa kali melahap Track Puspo maupun
C3 TNBTS yang medium extreem mereka malah addicted dengan Perosotan.
Obsesi menjelajah Track 5 Cm telah terpendam sekian lama bahkan kalah
prioritas dengan pelaksanaan jelajah minggat seri 4 Pengalengan Bandung dan Cemoro
Tigo hingga 3-4 kali executie, entah kenapa obsesi yang sudah mengendap lama
tiba tiba muncul kembali sekelebat dalam alam bawah sadar hingga akhirnya benar
benar dipastikan waktunya.
Entah Setan, Jin, Pagebluk,
Lelembut atau bahkan Malaikat dari mana yang telah membisiki kami sehingga
tanggal 15 Oktober 2016 disepakati bersama pelaksanaan Gobar Track 5 Cm yang
dilanjut sampai Masjid Ar Royyaan Tongas Probolinggo.
| Add caption |
Seminggu sebelum pelaksanaan kami melakukan survey ke Penanjakan untuk
memastikan keadaan cuaca, arah angin, rute dan waktu tempuh agar hari
pelaksanaan benar benar optimal dan bisa menyelesaikan Gobar Long Track kali
ini, Cuaca ketika survey memang lagi tidak menentu karena berbarengan dengan
anomali cuaca yang terjadi antara 8 – 11
Oktober 2016, sebagaimana peringatan BMKG yang dipublish lewat websitenya, Masyarakat
dihimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan
seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon
tumbang dan jalan licin. baca lebih lanjut di link : http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Sestama/Humas/WASPADA_POTENSI_HUJAN_LEBAT_DI_WILAYAH_INDONESIA_8_-_11_OKTOBER_2016.bmkg#ixzz4NUqqS5Y4.
Dan memang benar saat itu cuaca
di Penanjakan lagi Hujan dan berkabut serta sepi pengunjung, kami bertiga
berteduh sambil kedinginan di Mushalla yang dibangun dari CSR Bank Syariah
Mandiri diatas ketinggian 2700 mdpl sambil sesekali mencoba sepeda yang kami
bawa kesekeliling Mushalla untuk mengusir hawa dingin saat kabut mulai
menyelimuti dan arah angin ke Selatan sehingga bila erupsi Bromo tetap
berlangsung maka akan mengarah ke Bantengan dan sekitarnya.
Sabtu, 15 Oktober 2016 hari yang
sudah disepakati bersama, kami berangkat dari kediaman masing masing menuju Rendezvous
Gate Wonokitri jam 07:00, setelah meminta ijin ke Petugas kami bersama menuju
titk Start di Penanjakan tepat 08:30
sebelumnya sempat mampir di Dingklik untuk liat view ke bawah lautan
pasir serta selfi bersama, Total peserta Gobar kali ini sebanyak 27 Orang terdiri atas, DPP Markaz : 4 Org, DPC Pare : 1 Org, DPC
Sumurwelut : 1 Org, DPC Menganti : 1 Org, DPC Jakarta : 2 Org, DPC Sidoarjo : 4
Org, DPC Lumajang : 1 Org, DPC Prolink : 1 Org, DPC Malang : 2 Org dan dari
Kesatuan DENPOMAD V/3 Malang : 9 Org termasuk Bpk. WaDan POMAD ikut serta secara
langsung.
Setelah briefing gambaran umum
track yang akan kita libas oleh Sang Marshall Samhoed dan dilanjut do’a bersama yang dilead oleh Ostadz DPP Markaz Bogem Cukir Jombang
tepat 09:00 kita mulai Start dari Penanjakan menuju Cokroniti sejauh 3.75 Km
dengan kontur Rolling naik turun berupa Tanah Pasir Vulkanik yang memadat dan tidak
berdebu setelah diguyur hujan beberapa hari sebelumnya diketinggian rata rata
2700 mdpl tepat sebelah Utara Bromo, panorama kanan kiri single track terasa
rindang banyak ditumbuhi pepohonan khas dataran tinggi, dari atas Cokroniti --yaitu
sebuah Bukit tempat persembahyangan yang disakralkan oleh Umat Hindu Tengger--
view ke arah kawah Bromo sangat indah sekali tanpa halangan bukit lain ataupun
pepohonan, bahkan tanaman yang ada disekitar Cokroniti tumbuh secara Bonsai
Alami menambah keasrian bukit Cokroniti, bagi Goweser yg menjelajah track 5 Cm
adalah menjadi sebuah keharusan (mandatory) untuk mampir ke bukit ini karena
bukit ini merupakan icon track 5 cm.
Setelah puas berselfi ria dan menikmati panorama dari atas bukit
Cokroniti diteruskan meluncur deras melewati turunan single track -berupa tanah
pasir vulkanik padat- menuju Gunung/Bukit Kembang, konon dulu banyak Janda
Kembang yang melakukan ritual di puncak Bukit Kembang ini, entah ritual apa
yang dilakukannya kemungkinan agar bau para Janda itu tetap seperti Kembang
yang harum semerbak mewangi, tapi versi lain mengatakan bahwa bukit kembang itu
adalah area dimana Petugas Perhutani menanan sejumlah kembang di puncaknya.
Sebagian Peserta Gobar ada yang
percaya cerita versi pertama terutama mereka yang keseharianannya senang bergaul
dengan Roji dan RD Steer Bunder Kluwer namun sebagian besar peserta Gobar lebih
percaya cerita versi kedua.
Turunan single track dari Cokroniti ke Bukit Kembang sangat menguras
Adrenaline dan butuh konsentrasi tinggi karena banyak bagian tengah track yang
membentuk cekungan atau lubang memanjang seukuran 1.5 kali lebar roda MTB dari
bekas tapak motor Petani yang bercocok tanam disekitar area TNBTS, belum lagi
belokan (bereman) yang tajam dalam
kondisi rusak, banyak lubang bekas saluran
air hujan ditambah dengan sebelah kanan kiri Jurang yang curam dan dalam, harus
benar benar fokus tidak boleh lengah sedetik atau sesenti pun apalagi sampai lengah ataupun blank sepanjang
5 detik (5 cm) karena resiko bahaya senantiasa mengintai disepanjang lintasan,
sehingga tidak berlebihan bila lintasan ini dinamakan Track 5 Cm, nama ini bukan
sekedar disematkan dengan mendompleng popularitas salah satu Film Nasional yang
juga mengambil setting lokasi di TNBTS.
Kalau dicermati
video accident dari salah satu DPC Malang, Ko Budianto Wiyono di stage sebelum dan sesudah Gunung/Bukit Kembang (2
kali accident), jelas Yang bersangkutan sempat tidak focus sekian detik lalu
tersadar roda depan sudah berjarak sekian cm dari bibir jurang kemudian dengan
reflek melakukan pengereman mendadak, mungkin rem depan lebih dominan sehingga
badan terlempar ke depan dan kuda gowes jatuh kesamping kanan kearah jurang.
Setelah turunan Single Track Tanah Vulkanik yang padat kita memasuki pertigaan
Puncaksari dimana kalau ambil jalur kekiri menuju Lumbang dan kanan menuju Desa
Sapikerep dengan melewati Dusun Pusung Malang lalu Dusun Ngeloh dengan kontur Turunan
Makadam dan bongkahan batu yang sebagian lepas dari tatanan ditambah lubang
lubang ditengah makadam, batu batu yang lepas sebesar sekepalan tangan setelah
dilewati roda depan biasanya beterbangan hingga menimbulkan suara benturan yang
keras baik dengan Frame, Crank, Chain Stay, RD maupun Rim belakang dan Spokenya
sehingga menjadi tantangan tersendiri meluncur di lintasan semacam ini apalagi
kalo beriringan satu dengan lainnya, maka Rider yang dibelakang harus lebih extra
hati hati mengantisipasi batu batu melayang ke arahnya, dibutuhkan stamina yang
prima, fokus, pegangan tangan yang kuat untuk handling dan meredam getaran juga
tumpuan kaki yang kuat untuk berdiri diatas kuda gowes agar balancing tetap
terjaga.
Diperbatasan sebelum masuk Dusun
Ngeteh kami semua beristirahat mengatur nafas
dan melemaskan tangan serta kaki setelah diguncang sepanjang 4 Km
Lintasan Makadam, kami beristirahat di salah satu Rumah Penduduk Dusun Ngeloh yang
saat itu pemilik rumah sedang panen Wortel, beberapa dari kami bahkan sempet
mencicipi Wortel segar serta Teh Hangat bikinan Anak Perawan tuan rumah,
setelah mencicipi beberapa teguk teh hangat bikinan pemilik pipi kemerah
merahan rasanya tenaga dan semangat refresh kembali dan ini dirasakan hampir
semua peserta ketjuali mereka yang biasa bergaul dengan para Roji dan RD Steer
Bunder hanya merasakan biasa biasa saja (BBS kata P. Nong Klenong).
Setelah puas menikmati teh dan menatap pipi kemerah merahan dianjutkan
melintasi track yang sama, makadam dengan batu yang lepas mulai dari Dusun
Ngeteh Desa Sapikerep hingga mencapai pertigaan Raya Sukapura sejauh 4 Km lagi,
sehingga total lintasan makadam kurang lebih 8 km.
Di Lintasan ini team BMC sempat meng-overlap
team POMAD V/3 Malang yang sebelumnya mereka jauh mendahului di depan, sebagian
besar kuda gowes team POMAD menggunakan Hardtail makanya dilintasan makadam
mereka tidak bisa fullspeed.
Sampai di Warung Bu Fatimah kira kira jam 14:00, pada awalnya sebagian
merasa bingung karena warungnya telah direnovasi dengan tampilan gedung baru dan
lebih kaget lagi adalah Kendaraan Loading yang sudah terparkir di sekitar
warung dengan menghadap ke Utara dalam kondisi berdebu, usut punya usut ternyata
setelah mengantar ke titik start Penanjakan kendaraan loading tidak kembali ke
Wonokitri lalu turun ke Pasuruan di lanjut Tongas sebagaimana instruksi sebelumnya
namun mereka para Driver memilih jalan by pass turun melalui Lautan Pasir Bromo
padahal status Siaga Bromo belum dicabut dan area lautan pasir steril dari
aktivitas manusia, lho koq bisa ke lautan Pasir....? kenyataannya bisa...., itu karena dalam
rombongan kendaraan loading ada kendaraan PATWAL POMAD sehingga petugas TNBTS
meloloskan mereka melintasi Lautan Pasir menyebrang ke Cemoro Lawang lalu ke
Sukapura.
Puas mengisi BBM Kampung Tengah dengan menu Prasmanan ala Bu Fatimah,
tepat jam 14:55 Team BMC yang terdiri atas DPP Markaz Bogem Jombang, DPC Pare,
DPC Sumurwelut dan DPC Menganti melanjutkan Gobar ke Masjid Ar Royyaan di Jalan
Raya Tongas Probolinggo dengan track Turunan Aspal mulus sejauh 26 Km, lintasan
sejauh ini ditempuh dalam waktu 30 menit dan tepat 15:30 BMC finish di Masjid
Ar Royyaan Tongas, setelah membersihkan badan lalu Shalat Jamak Qashar Ta’khir
kami balik pulang.....
Terima kasih kepada DPC Prolink yang mengantar kami menikmati
kebesaran Allah disepanjang lintasan Gobar kali ini juga terima kasih pada Team DENPOMAD V/3 Malang, sampai jumpa dalam Gobar mendatang.....
Salam,
GS
08 April 2016
TIGA GOLONGAN DALAM GOBAR BMC-SCC (Sierad Cycling Club).
Dan
hari Minggu 3 April 2016 pun telah ditetapkan……, sebagai
waktu pelaksanaan Gobar BMC –
Sierad Cycling Club (SCC) dengan
mengambil lokasi/area Wonosalam dan
sekitarnya, SCC adalah sekelompok Goweser
yang bernaung dan bekerja di PT. Sierad Produce Tbk, yaitu perusahaan yang bergerak dalam produksi pakan
ternak sebagai produksi utama serta
dalam industri peternakan, penetasan, rumah potong, kemitraan, juga usaha
daging ayam, tepung ikan dan beberapa produksi peralatan-peralatan ternak ayam yang beralamat di Jl. Raya Sidoarjo
– Krian, Desa Ketimang/Ploso Kec.
Wonoayu Sidoarjo, anggota SCC meliputi semua Department yang ada tanpa
membedakan status kekaryawanannya dan sebagian besar berasal dari Production
Department.
Sebenarnya
agenda Gobar BMC yang hingga kini masih menjadi obsesi adalah Track 5 Cm,
Cemoro Tigo dan Ledok Ombo yang kesemuanya masih dalam area TNBTS (Bromo dan sekitarnya), salah satu dari ketiga Track Favorit itu
sedianya dieksekusi pada April 2016 ini namun karena adanya special request
demi terjalinnya persahabatan dan silaturrahim antara Pegowes/Goweser maka
biarlah Track Favorit itu masih tetap menjadi impian BMC.
| BMC dari berbagai Cabang admelakukan persiapan di DPP Markaz Bogem Diwek -Jombang |
Di
Wonosalam sebenarnya banyak Track yang menarik lagi menantang bagi para
Pesepeda baik dari jenis DH (Carang
Wulung Bike Park), AM (Trans Sumber Boto Zodiac 7, Sejawat 14) maupun XC
(Lembah Giri, mBah Sakim, Gentaru, Rumah Hantu dlsb), namun kali ini kami
sengaja mencari Track yang berbeda dan lain dari biasanya dengan konsep Berakit
rakit dahulu bersenang ditengah tengah lalu diakhiri dengan “Ider Tempe” yang dikemas dalam kontur track : Tanjakan
Onroad, Turunan Offroad, Tanjakan Kombinasi Aspal, Paving, Makadam dan Tanah
Liat, super duper lengkap dech pokoknya.
| Pemanasan untuk melemaskan otot otot sebelum start tanjakan |
Malam
Minggu, 2 April 2016 semua anggota SCC telah berkumpul di Aula Villa Wonosalam untuk
mengikuti technical meeting, ramah tamah dan hiburan. Kepala Pusat Markaz DPP
BMC dalam technical meeting memberikan arahan bahwa Track Wonosalam mungkin
sangat unik dan berbeda dengan track yang selama ini sudah dijajal oleh SCC,
oleh karenanya perlu disiapkan pisik dan mental yang prima meskipun panjang
lintasan track hanya 21 Km namun kontur daerah Wonosalam yang berupa perbukitan
dengan Start – Finish dititik yang sama maka sudah barang tentu perbandingan
tanjakan maupun turunan pasti sama komposisinya (XC Rolling) dan track yang
dipersiapkan ini sebenarnya sesuai dengan jenis Kuda Gowes yang dibawa oleh
hampir seluruh anggota SCC yaitu jenis sepeda Hard Tail bahkan ada sepeda tanpa
suspensi sekalipun.
| Tikungan tanjakan... SCC masih berjaya dalam Track seperti ini |
Menjelang
Shubuh di Markaz DPP BMC kami telah mempersiapkan diri, kami bangun sebelum
shubuh sebenarnya secara tidak sengaja karena salah satu anggota bermimpi dan
mengigau dengan berteriak teriak dan terbahak bahak keras sehingga mengagetkan
dan membangunkan temen temen lainnya dan sempat terfikirkan untuk merekam
igauannya namun karena kelamaan dalam mencari alat perekam (HP) hingga habis
igauannya dan terlewatkan momentnya, setelah sadar dan bangun yang bersangkutan
bercerita sedang bermimpi mengusir Roh Jahat yang bersemayam di Rumah Hantu
yang ada di tengah track hutan Wonosalam, ternyata gambaran track yang
disampaikan oleh Kepala Pusat Markaz DPP ( Ostadz
Moh Nasir) sangat meresap dan mengendap dalam alam bawah sadarnya hingga terbawa
dalam alam mimpinya.
| Area Parkir Air Terjun Sekelip Carang Wulung |
Sebelum
bendera start dilambaikan oleh pejabat Sierad, dilakukan senam pemanasan agar
otot otot tidak stress karena begitu start langsung mendaki tanjakan aspal
hingga sampai pada Km 6 Desa Gentaru-Carang Wulung saat dimulainya turunan
offroad, disini banyak anggota SCC yang tadinya kenceng dan merasa superior di
tanjakan sekarang mulai agak kendor dan kaget dengan track tanah liat bercampur
bongkahan bebatuan baik yang berserakan dipermukaan maupun tertanam dalam
lintasan tanah liat yang cukup menyulitkan dalam mengayuh pedal sehingga tidak
sedikit dari mereka melakukan “Ider Tempe” padahal track turunan, terlebih lagi
ada yang memakai Ban dengan ukuran kecil dan sepeda tanpa suspensi.
| Goweser Cewek andalan dari BMC DPC Lumajang |
Setelah
melewati “Rumah Hantu” di tengah kebun dan hutan ada percabangan jalur, nah
dititik ini peserta Gobar mulai terpecah arah, ada Golongan Kanan (Ash-haabul
Yamiin), ada Golongan Kiri (Ash-haabus Syimaal) dan ada Golongan Muqorrobuun (
Dekat dg Allah) seperti Golongan Manusia
pada saat hari berbangkit (Surat Al Waqiah, 7-14).
| Mart Bobby lagi mengejar RD yang melaju didepannya setelah Rumah Hantu |
Golongan Kanan, setelah Rumah Hantu mereka
ambil arah kanan lurus turunan melintasi areal perkebunan Sengon, Kopi maupun
tanaman holtikultura lainnya dan keluar di perkampungan Desa Pulosari kemudian
nanjak aspal sampai pertigaan Pohon Beringin Desa Ngrimbi ambil arah kanan lagi
menyusuri perkampungan dengan menapak tanjakan demi tanjakan melalui lembah
Giri dan menanjak lagi hingga finish di Warung mBak Tik Wonosalam. Dalam Surat
Al Waqiah ayat 27 – 40 dikisahkan tentang
berbagai nikmat yang didapat oleh goloingan kanan, mereka berada ditengah kebun
dan taman serta mata air dengan buah buahan berlimpah beraneka maca ragam,
didampingi gadis jelita sebaya umur yang diciptakan khusus bagi mereka,
Golongan kanan ini sama banyak antara orang dahulu dan orang diakhir zaman.
| Belok kanan,..... Golongan kanan...? |
Golongan
Muqorrobuun,
Golongan yang mengambil rute lebih dekat jaraknya, yaitu setelah Rumah Hantu
mereka memotong jalur dengan menyebrang sungai melalui jembatan kayu yang
dibikin oleh para Pelajar Pramuka kemudian melintasi tanjakan makadam sampai
keluar dari areal perkebunan/hutan di Desa Pucangrejo, sebagian golongan ini
ada yang melanjutkan menapaki tanjakan dari Pucangrejo ke titik finish dengan
mengambil rute sama seperti saat start lalu di Desa Tukum belok ke kanan menuju
warung mBak Tik, golongan ini mencapai garis finish yang paling awal karena
jaraknya memang lebih dekat yaitu sekitar 13 km saja. Dalam Surah Al Waqiah
pada ayat 15 – 26 diceritakan tentang
berbagai kenikmatan yang didapat oleh golongan Al Muqarrobun , mereka duduk
diatas dipan yang bertahtakan emas dan berlian, dikelilingi para Bidadari
yang membawa gelas dan cerek berisi minuman dari mata air ditaman syurga, mereka
tidak pernah mabuk meminum minuman syurga, meraka mendapat buah buahan dan
daging burung, serta didampingi bidadari yang bermata jeli bagai mutiara
tersimpan rapi.
| Golongan Muqorrobuun sampe Finish paling awal.... |
Golongan
Kiri, setelah melewati Rumah Hantu mereka mengambil
arah ke kiri namun setelah menemui sungai yang berarus deras balik lagi karena takut melintasi jembatan
bikinan adik adik Pramuka lalu mencari tempat penyebrangan yang lebih aman dan
dengan terpaksa harus rela menaiki tanjakan secara “Ider Tempe” berjamaah
kemudian berputar putar didalam kawasan areal perhutani menembus semak belukar
naik turun silih berganti dan keluar di Desa Ngrimbi kemudian dilanjut lagi
dengan tanjakan Aspal menuju finish di Warung mBak Tik Wonosalam. Dalam Surat
Al Waqiah ayat 41 – 56 digambarkan tentang azab dan siksa yang dialami oleh golongan
kiri, mereka berada ditengah naungan asap hitam yang meniupkan angin yang amat
panas, mereka memenuhi perut mereka dengan makanan dari pohon zaqqum dan minum
air mendidih untuk menghilangkan haus dahaganya, sebagai balasan atas apa yang
telah mereka kerjakan selama hidup didunia.
| Golongan Kiri sedang "Ider tempe" karena kabotan helm..... |
Adakah kaitan dan persamaan tiga golongan dalam Gobar BMC-SCC
dengan tiga golongan yang dikisahkan dalam Surat Al Waqi’ah tersebut…..?
silahkan pembaca jawab dalam hati masing masing…
| Dititik ini Tiga Golongan ditentukan, terserah pilih yang mana....? |
Terima kasih kepada SCC atas pelaksanaan Gobar Wonosalam pada 3
April 2016 lalu, semoga kita bisa berjumpa pada Gobar lain waktu yang lebih
seru….
Salam,
GS
17 Desember 2015
KEMBALI KE KHITTOH DAN HABITATNYA
Suasana
jalanan pada subuh 9 Desember 2015 terasa sepi dan lenggang, maklum hari itu adalah
saat digelarnya Pilkada Serentak di 265 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia dimana pada hari itu juga ditetapkan sebagai
hari Libur Nasional termasuk daerah yang tidak melakukan pilkada sesuai Keputusan Presiden
RI Nomor 25 Tahun 2015, sehingga kesibukan rutin pagi hari terasa turut libur
untuk menyambut pesta demokrasi Pilkada serentak 2015.
Kesunyian
subuh hari itu…. disuatu desa terpencil --namun masih dalam wilayah kota
Surabaya-- terpecahkan oleh deru-raungan suara mobil MPV silver yang meluncur
dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan pagi karena kebetulan PJU saat itu memang
sudah 3 hari lalu mati, disamping
suasana yang sepi pagi itu juga terasa sejuk karena malam harinya wilayah
Surabaya dan sekitarnya sempat diguyur hujan yang sempat bikin nyali sedikit
ragu jadi berangkat ataukah batal, namun dengan berbekal Niat, Tekad, dan
Semangat (Bhs A1) maka hujan ataupun panas, gelap maupun pekatnya pagi bukanlah
aral yang bisa merontokan tekad menikmati TW Bike Park plus survey Track Gobar
BMC edisi Anniversary (berikut launching jersey) yang rencananya ambil jalur
Penanjakan – Puspo (Gravity Enduro).
Tak
terasa sesudah 25 menit naik dari Tol Waru sampailah digerbang Tol Japanan –
Pandaan tepat 05:15 dan tiba di Warung Renes Welang 06:10, selama sepuluh menit
menunggu datanglah Rombongan dari DPP Bogem bersama DPC Gagal Tentara, begitu
mereka turun barulah tersadar bahwa ban belakang kendaraannya kempes, setelah
diamati ternyata ada paku yang menancap sehingga terpaksa harus ganti Ban
sebelum sangrapan di Warung Renes, kebetulan saat itu Ummi Renes sendiri yang
melajani secara khusus, puas sarapan dan mengisi logistic berangkatlah ke Tutur
untuk mengambil start gowes menyusuri track prosotan TW Bike Park.
| Terpaksa harus Ganti Ban |
Kendaraan
loading kami titipkan di Kantor Koperasi Susu – Tutur yang berjarak cuman 50 m
dari pertigaan, meskipun sebenarnya kami tidak kenal dengan seorangpun Karyawan
Koperasi namun dengan menyebut nama Mas Adhi merekapun mempersilahkan kami
memarkir kendaraan di halaman Kantor Koperasi, selesai unloading Kuda Gowes dan
mempersiapkan segala sesuatunya (Tas punggung maupun protector) pada 07:35 kami
memulai mengayuh pedal menyusuri jalanan
beraspal dari halaman Koperasi sampai desa terakhir Dawuhan Sengon kecamatan
Purwodadi kabupaten Malang yang masih berupa Makadam dan Paving Stone sebelum
masuk areal hutan yang menjadi otoritas dari Resort Polisi Hutan (RPH) Gerbo -
Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH)
Lawang Timur, wilayah Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Pasuruan.
| Start Koperasi Susu Tutur |
Menyusuri
TW Bike park pagi hari sehabis hujan pada malam sebelumnya adalah sesuatu
bingits, betapa tidak… titik titik embun yang masih bening dan segar menempel
direrumputan nan hijau serta daun pepohonan sepanjang lintasan membikin dada
ini semakin membuncah bergelora namun senantiasa harus tetep waspada karena
sebagian lintasan juga menjadi licin, tak pelak beberapa ratus meter setelah
masuk hutan Pinus roda belakang kuda gowesku slip hingga tidak terkendali
akhirnya tersungkurlah aku diturunan yang sedikit berundak….wkwkwkwkwk
![]() |
| Semalam habis hujan... start terlalu pagi, track masih litjin bingits |
TW Bike park sejatinya mempunyai banyak jalur, ada yang bilang 4 atau 5 bahkan
bisa jadi sampai 10 jalur, namun yang jelas jalur yang kami pilih saat itu
adalah jalur yang murni gravity prosotan dengan pertimbangan bahwa kami memang
benar benar ingin merasakan atau tesing keandalan Kuda Gowes Santa Cruz Nomad
27.5” di-compare dengan Kuda Gowes existing yaitu BMC TF01 26”, dengan spec
configurasi part yang hampir sama, Santa Cruz dengan ukuran roda/rims yang
lebih besar bisa lebih melesat dengan senyap diturunan, namun sayang kami tidak
berani ambil resiko karena track yang masih licin sehingga semua jumpingan yang
ada tidak kami lewati, maklum kami masih newbie
dan mualap di track Gravity Enduro mangkanya dalam judul diatas disebut “Kembali
ke Khittoh dan Habitat” sebab selama ini kami memang mbalelo karena Kuda Gowes
kami sebenernya bergenre AM dengan Fork travel 160 -170 adjustable tapi
kebanyakan digunakan untuk lintasan XC tanjakan.
| Tersadar...!!!, Kembali ke Khittoh dan Habitatnya |
Sampai
finish di Warnes Welang waktu menunjukkan 09:10 dengan menempuh jarak 14,76 Km,
posisi titik start dengan ketinggian 1015 mdpl dan titik finish 180 mdpl,
tercatat total ascent 310 mdpl dan descent 922 mdpl (Endomondo Sport Tracker),
ternyata perkembangan TW Bike Park begitu cepatnya dibanding setahun lalu
terutama untuk lintasan dibawah Rumah Getah yang dulunya masih banyak bebatuan
yang tertanam (Rock Garden) maupun yang terlepas berserakan disepanjang
lintasan sekarang sudah mulus berupa lintasan tanah vulkanik khas berpasir
dengan kontur single track yang dilengkapi dengan berm berm disetiap kelokan
tajam dan Jumpingan serta Receivernya
maupun Chicken Way bagi Pemula, mangkanya beberapa waktu lalu ada yang
melintasi TW Bike Park dengan Polygon Monarch - sepeda yang diperuntukkan
berangkat dan pulang Sekolah- kemudian bikin review dan videonya.
| Menikmati TW Bike Park dengan Santi |
Oleh
karena kebiasaan maen track XC tanjakan dan kalori yang terbakar dalam
melintasi turunan TW tidak melampaui nishab dan nasi rawon Warnes masih terasa
ngganjal perut karena tidak terbakar seluruhnya maka DPP mengajak DPC Gagal
Tentara untuk gowes dari Welang naik ke Tutur, sedang kami berdua (Seketjend
& DPC Sumurwelut) mengambil Kendaraan Loading yang dititipkan di Tutur kemudian menjemput kebawah dua orang yang kemaruk
tanjakan tadi, ternyata mereka sempat naik sampai 5 Km keatas, cuaca cerah dan
terasa terik menyengat.
| Turunan TW Bike park tidak bisa bakar kolesterol rawon Warnes, perlu tanjakan... |
Survey
Track Penanjakan
Kami
bersama berangkat ke Penanjakan dari Nongkojajar dimana kami sempat mampir
sungkem ke rumah Mas Adhian Nova selaku Sesepuh dan Pinisepuh TW Bike Park sekalian titip kendaraan, di sana terlihat ada Om Ricky Alexander Maliangkay (Kuncen
Track 5 cm) dan beberapa temens goweser lain yang bersiap akan ngetrack di TW
Bike Park, setelah mengenalkan temens BMC dengan yang mBaurekso TW Bike Park
serta temens lainnya, tepat 11.00 kami
meneruskan perjalanan naik ke Bromo.
| Silaturrahim dengan Sesepuh dan Pinisepuh TW Bike Park |
Suasana
Wonokitri (Gate TNBTS) dari Pasuruan terasa sepi hanya ada beberapa pengunjung
bermotor, suasana yang biasanya hiruk pikuk Jeep Land Cruiser menawarkan jasa
mengantar pengunjung ke Penanjakan, Caldera Bromo maupun Savanah sama sekali
tidak terlihat, pun begitu deretan kamar penginapan di sekitar parkiran
Wonokitri juga sepi, warung penjual makanan dan minuman juga sebagian ada yang
tutup, sesampai di Wonokitri terasa hawa dingin khas dataran tinggi mulai
menggoda perut juga sang waktu memang sudah menunjukkan angka 12:10 sudah
saatnya untuk mengisi Kampoong Tengah dengan Mie Instan dan the hangat khas
Bromo.
| Pos Wonokitri yang lengang ..... |
Setelah
membayar ticket masuk TNBTS, kami memacu SUV yang berpenggerak roda depan
maupun belakang (4 WD) dengan leluasa karena jalan menuju Penanjakan terasa
lenggang bak jalanan kota besar yang ditinggal mudik warga penghuninya, kami
bener bener sangat menikmati view yang menghijau disekeliling jalur yang telah
dilewati apalagi di tanjakan Dingklik yang viewnya bebas kebawah kearah G Batok
dan G Bromo yang lagi meningkat aktivitasnya, sebelum puncak menyempatkan
singgah di Mushalla Syariah Mandiri yang dibangun di ketinggian 2700 mdpl,
Mushalla diatas Awan begitulah tulisan di Papan Nama yang terpampang di Mushalla
itu, kami melakukan shalat Jamak Takbress –berbeda dengan shalat jamak yang
selama ini kita kenal, ada Jamak Taqdim dan ada Jamak Ta’khir, itu terlalu
mainstream- Jamak takbress adalah shalat 5 waktu yang dijamak sekaligus dalam
satu waktu, bisa diawal, tengah maupun akhir …. Wkwkwkwkwkkkkkk
#ajaransesatjanganditiru.
| Mushalla di atas Awan dekat Nirvanna.... ritual disaksikan para Dewa |
Sensasi
shalat di Mushalla dengan ketinggian 2700 mdpl dengan suhu 22 oC dan
kerapatan Oksigen yang lebih tipis serasa shalat dalam Nirvanna dengan
disaksikan oleh para Dewa yang membuat do’a kita terijabah, namun sayang
suasana yang sekhidmat itu terasa kurang lengkap karena fasilitas air wudhu
yang tidak difungsikan disebabkan beberapa hari lalu ada tangan jahil yang
menyatroni Kotak Amal dengan mengambil seluruh donasi dari para pengunjung
sehingga ketika tidak ada Penjaga maka seluruh sarana terkunci semua termasuk
serambi utama Mushalla, begitu yang dikatakan seorang petugas Pintu Masuk
bernama Letto Bromo yang kebetulan berada di Kompleks Mushalla sambil
menawarkan jasa Guide untuk explore turunan lebih panjang ke Puspo atau
Pasrepan.
| Puncak Penanjakan yg memutih berkabut susu.... |
Kabut
di puncak Penanjakan tiada hentinya menghempas,
menerpa dan tiada putus putusnya menutupi lautan pasir, sepanjang mata
memandang hanya terbentang kabut susu memutih menutupi kepulan asap dan semburan
debu vulkanik Bromo, beruntung sekali sewaktu di Dingklik sempat mengabadikan
kepulan asap/debu membumbung ke angkasa pertanda peningkatan aktivitas
kegempaan.
| Aktivitas Bromo tertutup Batok diambil dari tanjakan Dingklik |
Tidak
ingin berlama lama di puncak Penanjakan yang sepi dan lengang, akhirnya kami
turun kembali ke Nongkojajar dilanjut warnes Welang untuk berpamitan dan
berterima kasih pada sesepuh TW Bike Park dan akhirnya kembali pulang, demikian
dan terima kasih atas attensi pembaca yang budiman.
Salam,
GS
Langganan:
Komentar (Atom)










