18 November 2015

TRANSLIBAS PENANJAKAN – PUSPO, 15/11/2015

Kendati aktivitas kegempaan Gunung Bromo meningkat sejak 30 Oktober 2015 hingga status keamanannya menjadi level waspada dan para Wisatawan dilarang mendekat ke Kawah Bromo dengan radius aman 1 kilo meter, apata lagi pada Kamis sore 12 November 2015 berdasarkan hasil pantauan Petugas, gempa tremor amplitudo mengalami peningkatan tercatat mencapai 3 milimeter, namun kesemua itu tidaklah menjadi aral untuk menyurutkan langkah BMC pada 15 Nopember 2015 meng-eksplore Track AM : Penanjakan – Puspo yang masih dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

View Bromo dari Penanjakan
Team BMC yang hadir dalam Trans Penanjakan – Puspo terdiri hanya 4 Orang sahaja dan mereka ini memang benar benar anggota pilihan, berdedikasi, loyalitas tinggi, berkomitmen teguh, penantang nyali dan adrenaline dan yang jelas anti nGaprettttttttttt……………..!!!!!!, mereka ini diantaranya : Kepolo Pusat Markaz DPP (Moh. Nasir sang Ostadz), DPC Martabak (Mart  Bobby) DPC Sumurwelut (George Sugeng sang Muallap, Guru Pramuka dan Pelatih Menembak) serta DPC Lumajang.(Yusuf Hasyim sang Pakar AC).
Pada awalnya kami hanya bertiga hadir dalam Trans Penanjakan-Puspo ini dengan komitmen berangkat sebelum Adzan Subuh berkumandang, baik dari Bogem sebagai Markaz DPP (2 orang) maupun dari Sumurwelut dengan titik pertemuan di Pungging –yaitu nama salah satu kecamatan di Mojokerto yang sekarang menjadi buah bibir dikalangan BMC members-  dan tepat setelah Shalat Subuh  kami bertiga dari Masjid Pungging meluncur menuju Penanjakan yang berjarak ratusan kilo meter dari tempat tinggal masing masing dan sebelumnya kami tidak mengetahui jikalau DPC Lumajang juga hadir dalam gelaran tersebut sampai kami baca status FBnya yang meng-update persiapan berangkat ke Penanjakan, baru setelah itu kami mafhum.
Trio BMC 
Dalam perjalanan antara Apolo menuju bekas Exit Tol Gempol kami dikejutkan oleh 2 orang AKAMSI (Anak Kampung Sekitar situ) berboncengan dengan motor butut tanpa lampu dan sign dengan seenaknya tanpa melihat kendaraan lain menyeberang ambil lajur kanan tanpa memberi sign sehingga yang dibelakangnya sempat sedikit gelagapan dan panik, untung saja Ostadz sang Driver Triton D-Cab saat itu dengan cekatan mengerem dan mengantisipasi arah laju motor  Akamsi tersebut sehingga terhindarlah kami dari apa yang biasa disebut Accident.
Kepolo Pusat Markaz BMC Bogem Jombang
Sepanjang Perjalanan Bangil hingga ke Penanjakan kami tidak ada hambatan dan kendaraan melaju dengan kencangnya, sampai di Penanjakan tepat 06.40, setelah unloading kuda gowes lalu memakai jersey, accecories maupun peralatan safety (protector) dan sembari menunggu peserta lain kami manfaatkan waktu berselfie ria dengan background view lukisan alam dari Sang Maha Pencipta yaitu hamparan Gunung Batok, Gunung Bromo, Gunung Widodaren dan nun jauh dibelakangnya tersembul puncak Mahameru dengan kepulan asap dari kepundan Nirwana Saloka membuat hasil jepretan seolah kita sedang ditengah keindahan Swarga Loka, dan inilah salah satu kemukjizatan Jawa Dwipa, tanah air tercinta.
Swarga Loka di Jawa dwipa
 Setelah melalui Briefing oleh pak Drg. Surdiyanto lalu dilanjut Do’a mohon keselamatan selama perjalanan dalam meng-explore track prosotan yang cukup lumajan extreme (Gravity Enduro) maka tepat 08:35 mulai start berangkat, cuaca sangat cerah namun karena ketinggian mencapai 2500 mdpl maka cerahnya sang Surya tidak terasa panas di kulit lengan yang tidak tercover oleh jersey, maklum jersey dalam gelaran ini panjangnya dibikin ukuran ¾ dari lengan actual, kontur track Penanjakan – Puspo adalah turunan panjang dengan sesekali menanjak karena harus beralih dari satu bukit ke bukit lainnya, setelah menyebrang sungai yang kebanyakan kering maka dipastikan akan menaiki bukit untuk kemudian turunan yang panjang melalui punggung bukit dimana sisi kiri dan kanan adalah lereng curam lagi dalam dengan kemiringan yang bisa bikin adrenaline terpompa, berdebar dan bergelora laksana sepasang kekasih memainkan tarian kasih asmara.
Briefing dan Do'a
Track offroad dengan perbandingan turunan mencapai 90% dan tanjakan yang hanya 10% sahaja berupa tanah vulkanik berpasir namun sedikit berdebu karena beberapa hari sebelum gelaran sempat diguyur hujan beberapa kali sehingga membikin track menjadi padat tapi masih terasa empuk dilalui, sesekali yang bikin agak ngeri disaat sisi kanan berupa tebing batu yang keras dan sedikit menjulur kearah lintasan pada bagian atas kepala yang kadang kalau tidak cekatan menghindar helm bisa bersentuhan dengan diding tebing dan disisi kiri adalah jurang atau lembah yang dalam dengan kemiringan yang bisa menghempaskan tubuh hingga ke dasar bila jatuh kearah kiri.
Collosus melibas segala medan dan obstacle......Wuzzzzz
Untuk track yang mendekati perkampungan warga biasanya berupa jalur Makadam yang lebih lebar, dijalur ini biasanya para rider yang mengendarai Kuda Gowes bersuspensi tunggal (Fork Depan saja) harus berjuang lebih extra dalam meredam getaran, kedua lengan dan kaki harus bisa menjadi suspensi extra, kedua kaki harus selevel dan sedikit ditekuk sedang kedua tangan juga harus sedikit ditekuk, tidak boleh lurus dan kaku  dalam memegang handle bar.
Prosotan Passion 
Track Penanjakan – Puspo dengan jarak lintasan 24 Km ini memang agak extreme sehingga dibutuhkan technical skill level intermediate dan nyali yang lebih berani untuk menikmati turunan dan kelokan berm berm (U Turn) alami dan liar, sejatinya Track ini pernah diexplore beberapa tahun lalu oleh Translibas namun jalur kali ini berbeda sama sekali, kalau dulu finish di Pasar Puspo namun kali ini di Bumi Perkemahan Puspo yang letaknya jauh dari pemukiman warga dan dibutuhkan kendaraan loading yang prima untuk mencapai titik ini guna menjemput , untuk kendaraan jenis sedan jangan sekali kali dipaksakan masuk karena gardan pasti berbenturan dengan batu batu disepanjang jalan akses yang masih berupa jalan makadam.

si Santi emang empuk....
Disepanjang lintasan banyak spot spot exotis yang bisa diabadikan namun karena lintasan kebanyakan berupa turunan maka banyak view yang terlewatkan, pilihannya adalah apakah menikmati turunan ataukah mengabadikan panorama lukisan alam yang mungkin saja tidak dapat terulang…… satu dari dua pilihan yang sulit ini terpaksa harus kita tentukan, kadang ditengah menikmati turunan harus mengerem laju sepeda untuk ambil angel/spot yang menantang dan bahkan kebanyakan kita langsung lewatkan keindahan panorama itu begicu sahaja namun setelah usai selesai baru tersadar dan menyesal.
Finish di Bumi Perkemahan Puspo
Akhirnya, kami sampaikan Terima kasih yang tak terhingga kepada Team Translibas yang telah dengan susah payah menggelar event Penanjakan – Puspo mulai dari survey hingga terlaksananya dengan lancer dan sukses, semoga event berikutnya lebih dahsyat lagi…..

Salam,

GS



















22 Oktober 2015

GOBAR JONEGORO : CYCLING WARRIOR, BMC, ARSEN, BOSCH, KSOH DAN PERTAMINA CEPU

Dengan merefer Tagline Arsen (A1): Gobar bukan merupakan ajang KOMPETISI atau SEJENISNYA melainkan GOWES BERSAMA yang lebih mengedepankan nilai-nilai KEBERSAMAAN untuk menjalin SILATURAHMI sesama Bikers, maka disepakati agenda Gobar pada Minggu,18 Oktober 2015 lokasi Bojonegoro dan sekitarnya dengan rute Pacing – Kalisari – Menilo (Menilo Bike Park 1, 2, 3) dengan Host Cycling Warrior Bojonegoro, yang digawangi oleh Om Andrew Heryanto.

BMC di Rendezvous

Sebagaimana woro woro dari Tuan Rumah Om Andrew Heryanto, Dkk,  sehubungan dengan cuaca akhir akhir ini di Bojonegoro terasa agak terik menyengat maka diharapken peserta Gobar yang datang dari luar kota : Surabaya, Lamongan (Babat & Brondong), Tuban, Jombang dan Cepu merapat di Rendezvous Rumah Pak Yong Christianto Widjaya tidak lebih dari jam 06:00 pagi agar bisa melaksanakan start lebih pagi dari biasanya dengan harapan ditengah perjalanan gowes cuaca lebih bersahabat dan tidak terlalu panas, namun apa lacur setelah menunggu beberapa saat hingga semua peserta dari pelbagai kota hadir ( berjumlah 45 bikers ) start di desa Pacing, Parengan - Tuban tepat 07.50 setelah dilakukan pengarahan pendahuluan dari Host dan doa bersama lintas agama dan kepercayaan.

Host memberi Sambutan & Pengarahan
Jangan berharap kita akan mendapatkan Track Perosotan seperti di Nongkojajar ataupun Bromo, ini adalah Bojonegoro sebelum menikmati turunan kita dituntut menapaki tanjakan atau bersakit sakit dahulu dengkulnya baru berenang ketepian atau bersenang senang kemudian, karena memang topografi Bojonegoro (terutama sisi Utara yang menjadi rute Gobar) berbukit bukit yang merupakan bagian dari Hamparan Pegunungan Kapur Utara sehingga tidak mungkin ada turunan perosotan yang panjang, adanya cuman Rolling sahaja, begitu kira kira inti dari prakata pendahuluan dari Om Andrew Heryanto, kemudian dilanjut dengan mengenalkan anggota CW yang bertugas menjadi Vorijder, Marshall, Guide maupun Sweeper Team dan saya tidak ingat satu persatu mereka tapi saya cukup mengenal : Pak Yong, Mas Imam, Koh Ronny dan Pak Nono.

Vorijder, Marshall, Guide dan Team Sweeper ( Cycling Warrior Bjngoro) 

Berbicara mengenai Pegunungan Kendeng atau Pegunungan Kapur (Karst) Utara Jawa yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur (Pati, Rembang, Blora dan Bojonegoro) teringat beberapa tahun silam ketika belajar Hukum Adat, wilayah itu merupakan habitat dari etnik Samin yaitu suatu kelompok masyarakat yang mempunyai adat dan norma hukum tersendiri yang unik yang agak berbeda dari dunia sekitarnya yang mayoritas adat Jawa bercorak Mataraman, mereka kaum Samin memegang teguh ajaran Sedulur Sikep yang diajarkan oleh Mahaguru Samin Soerosentiko, tidaklah relevan kalau kita bahas secara detil ajaran Sedulur Sikep dalam forum ini namun satu hal yang pantas kita ajungi jempol yaitu kepedulian mereka terhadap Lingkungan dengan menjaga kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di komunitasnya.

Suasana "Sedulur Sikep", Ajaran Mahaguru Samin Soerosentiko

Gobar Jonegoro kali ini total menempuh jarak 20,80 Km yang efektif dijalani selama 1 Jam 35 Menit 38 Detik belum termasuk waktu untuk istirahat, dengan mencapai titik tertinggi pada 213 m di Km 1,6 dari start dan titik terendah pada altitude 48 m di Km 14,2 sedangkan titik startnya pada altitude 183 m dan finish di-altitiude 58 m sehingga total Ascent (tanjakan) : 127 m  dan Descent (turunan) : 255 m  ( sumber : Endomondo) dan peserta tercepat mencapai finish tercatat pada jam 10:40 di Rumah Pak Yong Jl. Hayam Wuruk No. 81 (mBuri Kelentheng) Bojonegoro.

Rute Track Gobar Jonegoro 18/10/2015
Sebagaimana pengalaman Gobar yang diikuti banyak peserta, Gobar Jonegoro kali ini selama menyusuri rute peserta terpecah dalam beberapa kelompok dan pihak Host sudah mengantisipasi akan hal ini mangkanya disediakan Voridjer, Marshall, Guide dan Team Sweeper agar tidak satupun peserta yang tersesat dan nyasar.
Untuk kelompok terdepan diarahkan oleh Imam Rozi, kelompok ini sebagian besar diikuti oleh Pemantjal dari Pertamina Cepu bertenaga besar bak pembalap dan ditiap tanjakan tidak satupun mereka yang melakukan Ider Tempe, kelompok Tengah adalah mereka yang suka Lawyer-an yaitu disetiap peristirahatan senang berlama lama sambil bersenda gurau membahas segala hal yang lagi in and hot, umumnya mereka berumur lebih tua dari kelompok pertama/depan dan kelompok terakhir adalah mereka yang memang bener bener tidak sekuat kelompok pertama maupun kedua,biasanya mereka jarang mantjal sehingga sering tertinggal dibelakang.

Om Leo paling suka di barisan belakang....

Track pertama menyusuri jalanan kampung beraspal menanjak sampai keluar batas perkampungan dan pada Km 1 masuk ke Hutan Jati Parengan mulailah jalanan off road sampai ketinggian max 213 m dilanjut turunan makadam hutan jati parengan hingga Km 6, kemudian melewati areal perladangan/persawahan warga dengan kontur perbukitan (naik-turun) hingga Km 9 keluar di pertigaan SMPN 1 Parengan, diteruskan dengan menyusuri Jalan Raya Suciharjo (Parengan-Soko) hingga Km 11,5 kemudian masuk jalan kampung beraspal hingga batas areal persawahan dan perladangan Warga Kalisari sampai pada Km 16 menemui Jalan Aspal kembali menuju Desa Menilo, pada KM 17 seharusnya kelompok kami (Kelompok Tengah) belok kekiri masuk areal Perladangan Warga Menilo dimana Menilo Bike Park (MBP) ada di dalam areal itu namun karena pertimbangan cuaca terik yang menyengat, membakar kulit dan hari semakin siang maka Track Menilo kami skip dan langsung menuju titik finish, begitu juga dengan Kelompok Belakang  sedangkan Kelompok Depan sempat memasuki Menilo Bike Park.

Biasa Biasa Saja dan Happy Long Day, menurut A1

Masih segar ingatan hampir 3 tahun yang lalu tepatnya pada 9 Desember 2012 ketika Gobar Cycling Warrior, Trek dan KSOH dengan mengambil rute yang hampir sama dengan Gobar Jonegoro ini cuman startnya aja yang beda yaitu disebelah Makam Desa  dilanjut ke Kalisari dan Menilo Bike Park, dalam kedua Gobar ini ada persamaannya yaitu sama sama tidak bisa masuk ke MBP,  Tanya kenapa….? Adakah kemisteriousan Track MBP sehingga tidak semua orang bisa masuk kesana, ataukah hal ini hanya berlaku khusus bagi KSOH, karena sudah dua kali KSOH Gobar ke Bojonegoro dengan rute melewati MBP tapi tak pernah bisa sampai ke MBP, ada saja rintangan kalau dulu di tahun 2012 karena hujan maka sekarang di tahun 2015 karena terik menyengat, ataukah hanya kebetulan nasib sial saja….?, Wallahu A’lam……..

BMC1, A1 dan Cepu1 menjadi "Sedulur Sikep"
Demikian liputan Gobar Jonegoro 18/10/2015 tak lupa kami (semua peserta) haturkan terima kasih yang tak terkira pada Om Andrew, Dkk  yang telah meng-arrange Gobar kali ini dengan sukses, aman dan lancar dan terlebih khusus terima kasih kepada Pak Yong Christianto Widjaya dan Keluarga yang berpayah payah memfasilitasi akomodasi maupun konsumsi,  dan tak lupa juga kami memohon maaf bila tindakan kami disengaja maupun tidak kurang berkenan di hati.

Salam BBS - HLD,

GS




Penulis
KSOH brondong Lamongan

BOSCH Parengan Tuban

PERTAMINA CEPU







26 September 2015

GOBAR BMC DINGKLIK - WELANG 19/01/2014 (Late Post)

Seolah tak mau kalah dengan trend akhir akhir ini yang lagi demam nulis pengalaman gowesnya, berikut ini cerita pengalaman gowes perosotan bersama BMC pada Minggu, 19 Januari 2014 kemarin.
Tepat setelah shalat Shubuh kutinggalkan rumah meluncur ketempat janjian dengan Victore Abe Oesman untuk bersama menuju Masjid Cheng Ho Pandaan, ternyata disana sudah dating duluan team BMC DPC Menganti 3 orang, seorang DPC Pakis dan Team Bang Jo Jombang berjumlah 12 orang tepat jam 05.15 WIB, setelah bersalaman dan berkenalan dg Bang Jo dimulailah meloading sepeda dari Kendaraan kami DPC SumurWelut, DPC Menganti dan Bang Jo ke atas dua Kendaraan dari DPP (Grandmax dan Triton DCab yang belakangan hadir di Masjid Cheng Ho).



Tepat 06.00 setelah loading  berangkatlah keWelang (WarungRenes), sesampai di Warung Renes sebagian peserta Gober Dingklik-Welang mengisi BBM (sarapan) dan sebagian lagi ribet dg dirinya sendiri, ada yang narsis adayang sibuk pake peralatan untuk perostoan mulai dari sekakik sampe helm  dan ada yang sibuk ngatur rencana maksi dan ngumpulin uang iuran untuk BBM Grandmax (Mobil Loading), Ticket Masuk TNBTS dan sewa Driver lokal.



Setelah menempuh perjalanan meliuk liuk dan menanjak dipunggung pegunungan dari Welang menuju Bromo dengan dua kendaraan : Triton DCab dan Grandmax Pickup yang sarat dengan sepeda dan Biker-nya, total 23 Orang ( 2 Driver + 21 Biker) maka tepat 09.00 rombongan BMC + Bangjo Jombang sampai di Pos Wonokitri, setelah menyelesaikanp persyaratan admin sebagai visitor TNBTS maka perjalanan dilanjut hingga Tanjakan Dingklik, sebuah lokasi ketinggian disebelah Barat dan bagian Utara Bromo masuk wilayah Pasuruan yang sudah amat melegenda di telinga para BikerJatim, konon ada semacam Pemeo yang menyatakan bahwa sebutan Biker seseorang akan terasa tidak lengkap bila belum merasakan tanjakan Dingklik,  hal inibarangkali dianalogikan dengan seorang Muslim akan tidak lengkap rukun Islamnya bila belum berkunjung keBaitullah, Rombongan kami (BMC+Bang Jo) tiba di Dingklik sekitar 09.20, dan telah mendahului kami di Dingklik ada rombongan dari Banyuwangi (GCO) dan Probolinggo (Roda Mas, GSS Leces) sebanyak 50 Biker dengan membawa 3 Truk Colt Diesel,  Cuaca di Dingklik dan sekitarnya gerimis disertai angin dan berkabut sehingga View dari Dingklik kebawah, ke Lautan Pasir dan Gunung Batok menjadi terhalang oleh pekatnya kabut, udara sangat dingin dan basah(sempat ngintip indicator cuaca di Dashboard Triton menunjukkan angka 9 Degree Celcius dan ketinggian 2300 mdpl) sehingga Penjual Mantel Plastik Tipis menuai berkah, dagangannya langsung terjual habis diborong oleh Rombongan Biker BMC dan GCO.



Salah seorang anggota BMC paling sepuh  H Ta’in semaleman ga bisa tidur (menurut Pak Wandi Driver dari Jombang ) karena saking pinginnya melihat G Bromo, karena cuaca yang berkabut tebal maka beliau hanya gigit jari saja dan tidak kesampaian hasrat keinginannya, kasihan sekali jadinya kegelisahannya semalam tidak bisa terobati pagi ini di Dingklik.
Setelah unloading dan mempersiapkan Sepeda dan peralatan masing masing lalu dilanjut ritual baca Do’a bersama yang dipimpin oleh Ostadz Mohamad Nasir Hms dengan membaca Do’a Safar ( Allahumma Majreeha wa Mursaha……. Ga apal maklum masih Muallap…. hehehehehe)  maka start Gober dilakukan tepat 09.37 WIB dariDingklik menuju turunan offroad kearah DesaMororejo, ditengah perjalanan ini seatpost H Tain (BMC)  bermasalah (patah) lalu dipinjemi oleh anggota GCO, bahkan dia sendiri rela ga pake seatpost…. Salut bagi anggota GCO yang berkorban demi orang yang lebih tua.



View di etape ini (Dingklik – Mororejo) sangatlah indah dan sayang sekali bila dilewatkan begitu sahaja tanpa sesi Narsis maupun Selfie, terutama bagi mereka yang memang hobby dalam dua hal itu, ga usah disebutkan satu per satu siapa saja diantara mereka karena saya sendiri juga begicu…… dan etape Dingklik- Mororejo dilalui dengan selamat…..



Jalur Ngadirejo – Desa Andonosari sangat kondusif, disini banyak ditemui Switchback Turn karena memang tracknya dari atas menuju kebawah harus memutar berkelok kelok menuruni bukit dan untungnya cuaca di etape ini sangat mendukung sekali yaitu mendung dengan sesekali diselingi terpaan cerahnya sinar Mentari serta panorama daun rerumputan maupun tumbuhan perdu  yang masih dibasahi oleh embun pagi membuat hati semakin bergairah ditambah kondisi Track yang tanahnya padat sehingga tidak menempel di Ban serta tidaklicin.



Setelah keluar Desa Andono Sari lalu menuju Jalanan Aspal ditengah tanjakan – setelah saya oper untuk persiapan tanjakan ke gear/gigi yang lebih ringan kayuhannya-- ternyata drive train ( Sproket, Chain dan Crank) terasa agak tersendat perputarannya dan saya coba kayuh lebih bertenaga… eh koq malah putus…. Ada pelajaran berharga atas kejadian ini, apa…? Masing masing pembaca akan punya interpretasi sendiri sendiri……. Saya tidak bermaksud mendikte palagi menggurui, hehehehe.
Tepat 12.30 sampai di jajaran pohon pinus awal masuk HutanTutur (Pinus selamat datang), tempat ini sudah tidak asing lagi bagi penyuka Track Tutur –Welang terutama bagi mereka yang senang Narsis&Selfie, dilanjutkan masuk ketengah hutan dan banyak jalanan setapak yang saling berpotongan ( pertigaan maupun perempatan) yang membuat bingung meskipun sudah berkali kali melewati track ini apalagi saya yang menyandang Marshal/Track Guide diurutan paling depan yang  dituntut harus cepat ambil keputusan agar teman temen belakang tidak tersend atau berhenti laju gowesnya, mungkin karena dua hal itulah (banyaknya perpotongan dan harus cepat memutuskan) maka ditengah hutan rombongan sempat tersesat mengikuti jalur pencari rumput sampai keatas bukit yang seharusnya diawal pertigaan harus ambil kekanan/bawah tapi saya putuskan ambil kekiri/keatas, sesampai di atas tidak ada jalan lagi( terputus) sehingga harus kembali lagi ,akan tetapi setelah dipikir daripada kembali inget pepatah Melayu : “Sekali layar terkembang surut kita berpantang”, so lebih baik menuruni bukit ini (shortcut) meski dengan ber-“Ider Tempe”, lalu rombonganpun menuruninya meskipun banyak Drop Off yang curam lagi tinggi yang meski dilewati orang tanpa sepeda (menuntun) sudah sangat sulit melintasinya.



Setelah sempat kesasar perjalanan dilanjut hingga Garden Rock disela sela pohon sengon dan mahoni yang begitu rindangnya sehingga terasa gelap dan sesekali viewnya terlihat kemerahan/kekuningan, mungkin karena efek daun daun pohon yang layu dan jatuh ketanah lalu mongering dan saking banyak jumlahnya sehingga memantulkan warna khas daun kering.  Di etape Rack Garden ini saya begitu menikmatinya dan takterasa kecepatan laju sepeda menjauhi temen temen yang dibelakang, saya kira yang dibelakang saya adalah semua anggota rombongan ternyata hanya 2 orang sahaja, dan di Kebun Mangga sebelum keluar hutan sempat menunggu agak lama anggota rombongan yang lain dan tepat jam 14.00 rombongan masuk Finish di Warung Renes Welang namun Maksi masih belum juga matang karena katanya pesenya jam 15.00 baru masuk finish dan celakanya lagi ada 2 orang anggota yang tersesat didalam hutan hingga pukul 14.40 belum juga sampai finish akhirnya mereka yang tersesat mendapatpetunjuk Tuhan YME dan masuk finis tepat 15.05.



Demikian sekelumit pengalamanku gowes Track Dingklik Welang bersama BMC dan Bang Jo Jombang, bagaimana pengalaman gowesmu hari minggu kemaren…?....  Salam.



















22 September 2015

ZODIAC #7 JELAJAH SUMBERBOTO, WONOSALAM - JOMBANG

Setelah pelaksanaan Zodiac #6 Taman Nasional Baluran pada 1 – 3 Mei 2015 yang lalu maka kini giliran kota Jombang yang sekaligus Markaz DPP BMC menjadi Tuan Rumah pelaksanaan Zodiac #7, tahun ini memang menjadi berkah tersendiri bagi kota Jombang karena pada Awal Agustus 2015 lalu telah menjadi Tuan rumah Muktamar salah satu Ormas terbesar di tanah air (NU) dan dilanjut pada Pertengahan September 2015  ini sekaligus juga menjadi Tuan Rumah Perhelatan Pecinta Sepeda Gunung genre XC dan AM yaitu Zodiac #7, kenapa disebut Zodiac kami juga tidak mengetahui bagaimana ceritanya tapi yang jelas pengertian Zodiac adalah (dari kata Yunani Zoodiacos Cyclos yang artinya Lingkaran Hewan) adalah sebuah lingkaran sabuk khayal di langit dengan lebar 18° yang berpusat pada lingkaran ekliptika, tetapi istilah ini dapat pula merujuk pada rasi-rasi bintang yang dilewati oleh sabuk tersebut, yang sekarang berjumlah 13, dipercaya awal mula konsep ini berasal dari peradaban Lembah Sungai Eufrat  kemungkinan hanya dengan 6 rasi  :  Capricornus, Pisces, Taurus, Cancer, Virgo, dan Scorpio, yang kemudian dipecah menjadi 12 karena penampakan tahunan 12 kali Bulan Purnama pada bagian-bagian berurutan dari lingkaran sabuk tersebut, lalu apa hubungannya dengan kegiatan bersepeda….?, sebenarnya banyak spekulasi jawaban namun agar lebih jelas dan tidak menduga duga yang bisa menimbulkan fitnah lebih baik tanya sendiri pada yang mBaurekso event….. wkwkwkwkwkwk.



Zodiac #7 dilaksanakan pada 19-20 September 2015 di wilayah Wonosalam dengan mengambil start dan finish di Bumi Perkemahan Sumberboto, jarak yang ditempuh hanya sekitar 28,5 Km  dengan variasi Track onroad dimulai dari titik start hingga 10 Km  pertama dengan tanjakan yang menantang 1 Km sebelum masuk hutan jati dan disambung track 10 Km offroad dominan tanjakan yang kering, panas dan berdebu yang menguras stamina hingga kebanyakan peserta melaluinya dengan “Ider Tempe” tak terkecuali si raja tanjakan BMC, lalu ditutup dengan turunan berdebu berbalut batu kerikil sepanjang 8 Km hingga finish, sebenarnya suhu udara antara jam 06.00 hingga 13.00 berkisar 29 – 32o C namun oleh karena pada bulan ini bertepatan dengan musim kemarau El Nino maka ketika para peserta memasuki lintasan dalam hutan jati, sepanjang mata memandang hanya terlihat view pepohonan yang kering kerontang ditambah deru debu yang beterbangan oleh libasan roda roda MTB di barisan depan.



Event kali ini memang bener bener membikin si raja tanjakan BMC keok dan kena batunya, sepanjang tanjakan hutan jati dia selalu menyesali diri kenapa tadi bisa terpedaya akan rayuan ajakan nyelintung sarapan nasi pecel di Warkal….wkwkwkwkwk




  
Sehingga membuat kampong tengahnya serasa penuh bergejolak padahal hanya makan dengan porsi separuh sahaja dan dadanya serasa sesak tiada bisa leluasa diajak bernafas lebih dalam…., lebih tenang… dan .. tentram (mirip ajaran Pemulihan jiwa Dedy Susanto)   namun penyesalan mendalam tiadalah berguna dikemudian maka seketika bangkit dari Pos I dia bertekad bulat meneruskan perjalanan hingga finish bagaimanapun cara dan keadaan tiada dapat menghalanginya.



Setelah puntjak tanjakan terakhir atau bukit kedua dari Pos I mulailah bisa tersenyum meski agak terasa ketjut karena teriknya paparan cahaya sang surya, turunan offroad dengan obstacle batu kerikil baik yang lepas maupun tertanam di sepanjang lintasan (rock garden) dia libas dengan handling tarian di atas pedal tanpa duduk di sadel sehingga fleksibel dalam bersliyat sliyut menikmati berm belokan kekanan ataupun kekiri dan secara cekatan melakukan drop off pada lubang lubang lintasan yang secara tiba tiba menyapa.




Dua hal yang membanggakan bagi BMC adalah disamping salah satu Bikernya menjadi Bintang Poster di event Zodiac #7 kali ini juga karena salah satu Bikernya lagi masuk garis finish pada urutan ketiga, meskipun dia sempat tersesat dan agak kesulitan handling di turunan karena tebalnya debu dan sepeda yang memang agak sulit menaklukan medan seperti ini, dia bernama Usman yang merupakan anggota baru BMC DPP markaz Bogem, Brovo buat Cak Usman…  semoga prestasi kecil ini bisa memicu untuk berbuat yang lebih besar…… salam.




11 April 2015

BMC GOES TO HARAMAIN (Part 1 Madinah)

Rabu 11 Maret 2015 adalah dimana hari yang sangat kami nantikan, pada hari itu sesuai Technical Meeting yang diselenggarakan oleh Aminah Tour and Travel di Agis Resto pada Ahad, 8 Maret 2015 atau tiga hari sebelumnya telah ditetapkan sebagai hari keberangkatan Jamaah Umroh ke Tanah Suci dengan Tikum Bandara Juanda Terminal 2 International paling lambat 11.00 sedangkan jadwal pesawat take off menuju Tanah Suci direncanakan pada 14.20 WIB.

Sebagai bagian dari Jamaah Umroh kami dari Team BMC, terdiri atas : Moh. Nasir (Ketum), Moh. Subkhan (Anggota DPP), George Sugeng & Istri (DPC Sumur Welut), Nanang Kiswara (DPC Menganti) dan Sukarno Arjo (DPC Gurah) telah stand by di Terminal 2 Juanda sebelum 11.00 dengan diantara Sanak Saudara maupun Orang Tua masing masing, setelah menunggu beberapa waktu untuk pengurusan Bagasi maka sekitar jam 12.00 semua rombongan dipersilahkan masuk untuk proses boarding, lalu kami team BMC melaksanakan Shalat Dhuhur sekaligus Jamak Qashar Taqdim di Juanda setelah itu langsung menuju antrian pemeriksaan keimigrasian.


Setelah proses keimigrasian clear rombongan menuju landasan pacu terminal 2 namun pesawat yang mengantar kami yaitu Flynas tidak terlihat di Apron dan ternyata setiba kami di landasan pacu sudah menunggu Bus Bandara dan kami dipersilahkan masuk setelah itu berangkatlah Bus Bandara memutar disisi samping Landasan Pacu T2, kami sempat tanda tanya di benak masing masing : lho koq tidak langsung menuju Pesawat yang akan mengantar kami ?, mana pesawatnya koq belum terlihat ?... eh ternyata kami semua dibawa Bus Bandara ke Terminal T1 dan pesawatnya ada di Apron T1 yang dulunya khusus untuk International Flight (paling Ujung Timur).

Tepat pada 14.20 WIB Pesawat Boeing 747-400 (quad-jet) Flynas dengan nomor penerbangan XY #907 (LCC Plus) take off dari Landasan Pacu Bandara Juanda, kondisi cuaca saat itu terlihat sederhana dan sesikit berawan kata crew pesawat dengan berdialek Melayu, karena seat occupancy sekitar 80% sehingga di bagian belakang banyak seat yang kosong maka hal ini dimanfaatkan oleh Passangers untuk duduk lebih santai merebahkan diri di tiga seat yang dijadikan satu atau bahkan dipakai untuk tidur/beristirahat guna mempersiapkan physic, maklum penerbangan akan berlangsung cukup lama sekitar 10 sampai 11 jam sampai di Prince Mohammad Bin Abdulaziz Airport Madinah.


Selama perjalanan panjang ini kami memanfaatkannya dengan melamun dan membayangkan dua tempat suci dan kemegahan Masjidnya dibenak masing masing serta beristirahat agar nantinya badan terasa segar dan selalu fit dalam menjalankan ritual di Tanah Suci, untuk urusan menu makanan maka para Passangers mendapatkan makan sebanyak dua kali yaitu Makan Siang dan Makan Malam dengan menu khas Tanah Air dan sempat terbaca dalam kemasan makanan tersebut adalah produksi Garuda Catering Service.

24 Februari 2015

GOWES MINGGAT BMC SERI #3 EDISI BALI SECRET TRACK : PUNCAK PENULISAN – PANTAI TIANYAR (Part 1)

Legenda Bali Secret Track (Gravity Enduro, Puncak Penulisan – Pantai Tianyar) yang sudah tidak asing lagi ditelinga pecinta MTB Indonesia maupun Dunia agaknya menggoda kesabaran adrenaline para anggota BMC, makanya sejak dicanangkannya Gowes Minggat Seri #3 oleh DPP BMC langsung saja Track ini menjadi pilihan yang dominan diantara banyak pilihan Track lainnya, setelah minta pertimbangan dan nasehat dari para Sesepuh dan Pinisepuh, para Normal dan Abnormal dari seantero Jawa Dwipa maka ditetapkanlah pelaksanaan Gowes Minggat Seri #3 pada hari Sabtu 21 Pebruari 2015.

Menurut botjoran inpo –maklum lagi derasnya musim hujan– dari sumber terpercaya di Markaz DPP BMC, penetapan tanggal tersebut didasarkan oleh penomena libur Taon Baru Imlek yang jatuh pada hari Kamis 19 Pebruari 2015 sehingga bisa diprediksi hari Jumat nya akan ditetapkan sebagai Cuti Bersama bagi yang Sabtu adalah hari Libur karena Jumat adalah Harpitnas, dari pada para pegawai mbolos yang resikonya bila ketahuan akan diturunkan jabatannya dan dipotong gajinya maka lebih baek diliburkan sahaja sehingga semuanya akan senang dan gembira, Bawahan senang liburan jadi panjang waktunya dan atasan juga senang dan gembira selain karena waktu libur yang panjang juga tidak repot repot melakukan sidak absensi dan memberlakukan sanksi…….wkwkwkwk.

Setelah melalui proses yang panjang dalam diri tiap anggota BMC dan keluarganya (terutama dg urusan Visa)  –tidak usahlah kita deskripsikan mendetil bagaimana proses yang panjang itu, karena kita semuanya sudah tau sama tau, TST –   maka tersebutlah peserta Gowes Minggat Seri #3 Edisi Bali Secret Track sebanyak  20 Peserta, terdiri atas :
  •          DPP                     :  4 Orang
  •          DPC Akik              :  2 Orang
  •          DPC Menganti       :  1 Orang
  •          DPC Sumur Welut :  1 Orang (Penulis sendiri)
  •          DPC Sidoarjo        :  5 Orang
  •          DPC Lumajang      :  2 Orang
  •          DPC Jakarta          : 3 Orang (termasuk Bali)
  •          DPC Banjarmasin  :  2 Orang

Total                   : 20 Orang

Perjalanan menuju Lokasi Gowes yaitu ke suatu Pulau dimana tempat para Dewata bersemayam, yang konon Pulau ini juga disebut sebagai Kepingan keindahan Nirvanna yang tertinggal di Maya Pada, terbagi menjadi dua cara yaitu ada yang via Jalur Darat bagi yang ngaprettt dan banyak waktu tentunya… wkwkwkkwk  dan sebagian melalui Jalur Udara dengan memanfaatkan ticket murah dari beberapa maskapai penerbangan, konon Garuda pada hari Kamis malam telah membanting harga ticket dibawah Maskapai Low Cost Carrier – tapi ini inpo dari sumber yang kurang terpercaya, jangan ditelan mentah mentah–,  tercatatlah DPC Sidoarjo, DPC Menganti dan DPC Sumur Welut dalam satu Rombongan via Darat dengan dua kendaraan jenis MPV dan Pickup ketjuali seorang DPC Sidoarjo dan DPC Banjarmasin berangkat via udara, sedangkan DPC Akik dan sebagian DPP serombongan via Darat dengan dua kendaraan SUV dan MPV dan sebagian peserta lainnya dari DPP via Udara.
Jalur Darat yang ditempuhpun bagi yang melalui darat juga berbeda, Rombongan DPC Menganti, Sumur Welut dan Sidoarjo menyusuri jalur Pantai Utara Bali sedangkan Rombongan DPP dan DPC Akik melalui Jalur Selatan (Den Pasar) karena harus pick-up Sang Ketum BMC di Bandara Ngurah Rai sedangkan DPC Jakarta dan Banjarmasin mereka semua via Udara, konon mereka mencarter pesawat khusus yaitu Khushushon alaa Hadrathil Musthofa ilaihil Faatiha……..